Ayo Luruskan Niat, Tegakkan Kebenaran, Keadilan Kemakmuran di Indonesia untuk Kehidupan yang lebih baik dan sejahtera

Tampilkan postingan dengan label Kisah - Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah - Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Februari 2019

Fakta Sejarah ! Kesaksian 13 Mei 1998, Tidak Ada Perusuh Yang Pakai Peci & Sorban

Kesaksian 13 Mei 1998, Tidak Ada Perusuh Yang Pakai Peci dan Sorban




Video kampanye Timses Ahok-Djarot yang melukiskan kerusuhan Jakarta, 13 Mei 1998, benar-benar ahistoris dan penuh kebohongan. Saya tidak tahu, apakah para pembuatnya memang benar-benar berada di lapangan seantero Jakarta saat peristiwa itu terjadi atau tidak. Apakah Ahok saat itu sudah ada di Jakarta? Apakah Djarot waktu Jakarta rusuh itu juga sedang ada di Ibukota? Saya ragu. Di hari itu, alhamdulillah, saya bersama isteri, merupakan salah satu saksi hidup awal hingga simpulan terbakarnya banyak titik di Jakarta.

Tulisan ini saya buat semoga mereka yang tidak tahu dan tidak berada di Jakarta di hari itu menjadi paham kalau video orang-orang berpeci dan bersorban menciptakan rusuh Jakarta itu BOHONG BESAR.

Mei 1998, usia saya saat itu 27 tahun. Profesi wartawan. Sudah menikah namun belum dikarunia anak. Beberapa bulan lalu, Majalah ISHLAH gres saja tutup. Kami terpaksa kembali tingal di rumah mertua di Utan Kayu, di belakang Kompleks Kehakiman, bertetanggaan dengan Pramoedya Ananta Toer dan Erry Riana Hardjapamekas, wakil ketua KPK periode 2003-2007.

12 Mei 1989 sore, saya mendengar kalau empat mahasiswa Trisakti menjadi martir ditembak pegawanegeri saat tengah menggelar agresi demo di dalam lingkungan kampus. Insting saya eksklusif menyampaikan kalau eskalasi politik nasional akan meningkat drastis. Berbagai momentum sudah bertemu dan tinggal menunggu pecah. Dari banyak sekali kontak lewat telepon umum dan juga pager, saat itu telepon genggam masih menjadi barang glamor dan sinyalnya pun lebih sering mati sehingga GSM diplesetkan menjadi “Geser Sedikit Mati”, saya mendapat kabar kalau para mahasiswa se-Jabodetabek akan menggalang agresi solidaritas di Kampus Trisakti Grogol esok harinya. Malam hari udara Jakarta pengap dan gerah. Saya dan isteri malam itu berencana akan ke Kampus UI Salemba untuk menghadiri apel akbar mahasiswa yang akan diisi Mimbar Bebas. Lokasi Kampus UI Salemba tidak hingga dua kilometer dari rumah mertua dimana kami tinggal.

13 Mei 1998 pagi, sekitar pukul 07.30 wib, saya dan isteri naik bus dari depan Gedung BPKP di Jalan Pramuka Raya menuju Kramat Raya. Saya yang pagi-pagi itu sudah berdiri di dalam bus melihat orang-orang sudah berkumpul di mulut-mulut gang, juga di Jalan Pembina, Penggalang, dan Penegak. Di tempat ini pada tahun 1994 saya aktif sebagai anggota Yayasan PIJAR (Pusat Informasi Jaringan Anti Rezim) dimana saya berkenalan dengan aktivis-aktivis anti rezim Suharto menyerupai Nuku Sulaiman, Hakim Hatta, Tri Agus Susanto (TASS), dan lainnya. PIJAR ‘tiarap’ sesudah markasnya di Jalan Penggalang digerebek pegawanegeri Suharto gegara kejadian stiker SDSB (Suharto Dalang Segala Bencana). Itu yang saya ketahui. Sebagai aktivis, melihat suasana kebatinan Jakarta pagi ini, saya yakin akan ada kejadian besar di ibukota hari ini paska empat mahasiswa Trisakti menjadi martir. Semua teori Gerakan Massa dan Revolusi menyampaikan itu. Dari Eric Hoffer hingga Materialisme-Historisnya Marxis.

Tak hingga setengah jam, kami sudah berada di dalam lingkungan kampus UI Salemba. Acara mimbar bebas sudah dimulai dengan dihadiri bawah umur berjaket kuning. Kami berada di dalam lingkungan kampus di areal parkir depan Masjid Arif Rahman Hakim, dua meter dari pagar besi di mana Jalan Kramat Raya berada.

Hari semakin beranjak siang. Entah datangnya dari mana, jalan Kramat Raya sudah penuh dengan massa miskin kota. Mereka berteriak-teriak memprovokasi mahasiswa semoga bergabung dengan mereka, ikut turun ke jalan. Namun para pemimpin mahasiswa menyerukan bawah umur semoga tetap di dalam lingkungan kampus.

“Jangan terprovokasi! Jangan terprovokasi! Kita tetap di dalam kampus!” teriak mereka dengan lewat TOA. Di atas mimbar juga disiarkan pengumuman yang sama kalau agresi mahasiswa hari ini yaitu mimbar bebas dan tidak turun ke jalan.

Dari balik pagar saya memperhatikan massa liar yang sudah memenuhi jalan Kramat. Tiba-tiba asap membubung tinggi di depan RS. St Carolus. Massa liar memperabukan sebuah kendaraan beroda empat boks polisi yang memang setiap hari berada di sana. Fahri Hamzah, yang berdiri tak hingga dua meter dari kami, sibuk berkoordinasi dengan sejumlah titik simpul agresi mahasiswa. Tiba-tiba ia mendesis, “Ada pembakaran di depan Trisakti!” Kami kaget. Beberapa waktu kemudian kami mendapat konfirmasi kalau sebuah truk dibakar massa di bawah jembatan layang Grogol depan Trisakti.

Tak usang kemudian, Fahri kembali menyampaikan kalau situasi Jakarta makin panas. “Pasar Minggu dibakar, Pasar Senen juga…”

Tak usang kemudian saya juga mengetahui kalau Glodok, Jakarta Kota, Mall Klender, dan sejumlah titik di Jakarta dan sekitarnya dibakar massa. Penjarahan mulai terjadi. Usah sholat Dhuhur, isteri mengajak saya balik ke rumah di Utan Kayu. Mungkin ia takut alasannya situasi kian panas menuju chaos. Saya pun keluar dari gerbang depan Masjid ARH, menyeberang Jalan Kramat Raya dan berjalan kaki menuju perempatan Matraman. Jalan sudah lengang, tak ada kendaraan bermotor yang lewat, kecuali satu-dua kendaraan beroda empat Tentara Nasional Indonesia dan motor warga. Polisi tak tampak batang hidungnya.

Sambil berjalan kami melihat massa miskin kota yang sibuk merusak pot-pot kembang di pinggir jalan, menendang dan mencabut tiang-tiang rambu jalan, melempar apa saja memecahkan beling gedung-gedung yang ada di pinggiran jalan, dan aksi-aksi vandalisme lainnya. Para pelaku tak ada yang berkopiah dan bersorban. Muka-muka para pelaku kusam dan sangar, awut-awutan, jauh dari wajah yang biasa terkena wudhu. Kami terus berjalan, bersama beberapa karyawan perkantoran, menyusuri trotoar, dengan penuh ketegangan.

Mendekati perempatan Matraman, ketegangan memuncak saat kami melihat puluhan polisi berkumpul membentuk bundar menghadap keluar dengan senjata laras panjang dan pendek terkokang ke arah massa. Mereka sempurna di tengah perempatan di bawah jalan layang dan panik. Pos Polisi di perempatan Matraman ternyata telah hancur habis diserbu massa. Beberapa warga sekitar menyampaikan kalau penjara pun telah dibobol dan para tahanan telah kabur. Tiba-tiba terdengar letusan senjata api beberapa kali. Kami semua berlarian menyelamatkan diri. Saya dan isteri segera masuk ke lorong-lorong pasar kecil di perempatan Matraman yang biasa dijadikan tempat mengetik skripsi para mahasiswa dan pencetakan ijazah maupun KTP aspal. Semua toko tutup. Saya dan isteri terus menyusuri lorong-lorong gelap itu.

Keadaan di jalanan masih kacau. Teriakan-teriakan bersahut-sahutan. Massa liar yang bercampur dengan warga sekitar terus memprovokasi polisi dengan teriakan-teriakan mengejak dan menghina. Mereka agaknya sangat muak kepada institusi yang satu ini. Kami terus mencari jalan di antara toko-toko yang tutup. Namun lorong ternyata buntu. Kami alhasil kembali ke jalan dan terus berlari sambil terus merapatkan tubuh ke sisi yang paling kiri, alasannya letusan-letusan tembakan masih terdengar secara sporadis. Dua warga di seberang Pasar Pramuka terkena tembakan dan meninggal dunia.

Dengan penuh perjuangan, sesudah tiarap dan bangun berkali-kali di trotoar menghindari tembakan-tembakan yang terdengar, alhasil kami hingga di depan gedung BPKP. Ketika menyeberang jalan, tiba-tiba dari arah ASMI tiba beberapa panser Tentara Nasional Indonesia yang dengan bunyi gemuruh dan kecepatan tinggi menerabas jalan yang dipenuhi tanah dan pot-pot kembang yang sudah pecah. Kami masuk ke sebuah gang sempit dan melihat semua yang terjadi di jalan raya.

Beruntunglah rumah sudah dekat. Setelah isteri sudah di rumah, saya kembali ke jalan. Kali ini ke By-Pass. Di sana juga ramai. Warga bilang kalau Mall Klender dibakar dan banyak orang tewas terjebak api. Dengan menumpang ojek motor, saya mendekati lokasi dan melihat kerumunan orang di mana-mana. Saya berkeliling dan menghimpun informasi dari banyak kontak yang ada. Malam hari saya gres kembali ke rumah.

Esoknya, dan hari-hari kemudian, saya mendapat banyak informasi. Tentang penjarahan yang dilakukan massa liar dan massa miskin kota. Massa miskin kota ini bekerjasama dengan salah satu parpol yang kita semua tahu. Tidak ada massa perusuh yang mengenakan peci, tidak ada massa perusuh yang mengenakan sorban, tidak ada spanduk “Ganyang Cina”.

Bahkan saat itu juga dihembuskan informasi perkosaan massal yang dimuat di media-media mainstream yang ternyata juga dusta. Ini untuk mendiskreditkan umat Islam Jakarta. Sampai hari ini tidak ada bukti kalau dalam kerusuhan Jakarta terjadi perkara perkosaan massal yang menimpa warga keturunan. Kalau pun ada perkara perkosaan maka itu cuma satu dua. Jakarta tidak usah rusuh pun perkosaan tetap terjadi, sebagaimana tindak kriminal lain menyerupai penodongan, pencopetan, penjambretan, dan lainnya.

Jakarta, 13 Mei dan setelahnya yaitu Jakarta yang panas. Sekarang, saya hanya bisa berdoa dan berharap semoga Pilkada putaran kedua, 19 April 2017, berjalan dengan jujur dan adil. Situasi sudah sedemikian panas kini ini. Jika curang, maka apa yag tidak kita inginkan bersama bukan mustahil terulang kembali. Roda sejarah mempunyai logika dan daya geraknya sendiri. Jika cerdas, penguasa akan bisa memahami itu. Itu kalau cerdas. Jika tidak, Wassalam….

Salam Damai,

Alumni 13 Mei 1998

Rizki Ridyasmara [opinibangsa.id / emc]







Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Ayo Jalan Terus! -  Suarakan Fakta dan Kebenaran ! 




Sumber https://ayojalanterus.blogspot.com
Share:

Once Upon In Time....Suata Masa, Dikala Raja Sriwijaya Masuk Islam




   Ayo  Jalan Terus !  - Once upon in time, tahun 100 H (718 M), Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) penguasa dunia Islam kala itu di Baghdad. Surat itu berbunyi:

"Dari raja di raja yang ialah keturunan seribu raja,yang isterinya juga cucu seribu raja,yang di dalam sangkar binatangnya juga terdapat seribu

gajah,yang di daerahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah,

yang sebetulnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang sanggup mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya perihal hukum-hukumnya."


Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindra¬varman, yang semula beragama Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam.

Itulah sekelumit dongeng awal persentuhan tanah nusantara dengan Islam yang menjadi topik utama majalah Suara Hidayatullah edisi khusus.





Masuk Islamnya Raja Sriwijaya Oleh Khalifah Umar Abdul Aziz



Sri Maharaja Indra Warmadewa atau Sri Indrawarman merupakan seorang maharaja Sriwijaya, yang namanya dikenal dalam kronik Tiongkok sebagai Shih-li-t-'o-pa-mo. Munculnya nama Maharaja Sriwijaya Sri Indrawarman menurut surat kepada khalifah Umar bin Abdul-Aziz dari Bani Umayyah tahun 718M.

Tercatat Raja Sriwijaya pernah dua kali mengirimkan surat kepada khalifah Bani Umayyah. ada dua buah surat yang kemungkinan besar ditulis oleh Raja Sriwijaya untuk Khalifah di Tanah Arab. 

Surat pertama dikirim kepada Muawiyyah, dan surat kedua dikirim kepada Umar bin Abdul Aziz. Surat pertama ditemukan dalam sebuah diwan (arsip) Bani Umayyah oleh Abdul Malik bin Umayr yang disampaikan kepada Abu Ya’yub Ats-Tsaqofi, yang lalu disampaikan kepada Al-Haytsam bin Adi. Al-Jahiz yang mendengar surat itu dari Al-Haytsam menceriterakan pendahuluan surat itu sebagai berikut:

“Dari Raja Al-Hind yang kebun binatangnya berisikan ribuan gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani ribuan putri raja-raja, dan yang mempunyai dua sungai besar yang mengairi pohon gaharu - kepada Muawiyah….”

Buzur bin Shahriyar al Ramhurmui pada tahun 1000 Masehi menulis sebuah kitab yang menggambarkan betapa di zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya sudah bangun beberapa perkampungan Muslim. Perkampungan itu bangun di dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya. Hanya alasannya korelasi yang teramat baik dengan Dunia Islam, Sriwijaya membolehkan warganya yang memeluk agama Islam hidup dalam hening dan mempunyai perkampungannya sendiri di mana di dalamnya berlaku syariat Islam. Makara semacam tempat istimewa.



Sementara surat kedua,isinya lebih lengkap alasannya di dalamnya terdapat pembukaan dan isi, mengatakan betapa mewahnya Maharaja dan kerajaannya. Berikut surat dari Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

"Dari Raja sekalian para raja (Malik al Amlak) yang juga ialah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun ialah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi flora gaharu, rempah wangi, pala, dan kapur barus, yang aroma harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada Raja Arab (Khalifah Umar bin Abdul Aziz) yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan anutan Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku."

Ini ialah surat dari Raja Sri Indravarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang gres raja diangkat menggantikan Khalifah Sulaiman (715-717 M).

Khalifah Sulaiman merupakan khalifah yang memerintahkan Thariq Bin Ziyad membebaskan Spanyol. Pada masa kekuasaannya yang hanya selama dua tahun, Khalifah Sulaiman telah memberangkatkan satu armada persahabatan berkekuatan 35 kapal perang dari Teluk Persia menuju pelabuhan Muara Sabak (Jambi) yang ketika itu merupakan pelabuhan besar di dalam lingkungan Kerajaan Sriwijaya. Armada tersebut transit di Gujarat dan juga di Peureulak (Aceh), sebelum kesannya memasuki sentra Kerajaan Zabag atau Sribuza (Sriwijaya). 

Raja Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayah pada tahun 100 H (718 M). Ia meminta dikirimkan dai yang sanggup menjelaskan Islam kepadanya. Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga mengutus salah seorang ulama terbaiknya untuk memperkenalkan Islam kepada Raja Sriwijaya, Sri Indravarman, menyerupai yang diminta olehnya. Tatkala mengetahui segala hal perihal Islam, Raja Sriwijaya ini tertarik. Hatinya tersentuh hidayah. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu kesannya mengucap dua kalimat syahadat masuk Islam menjadi seorang muallaf. Sejak itu Kerajaan Sriwijaya Jambi pun disebut orang sebagai “Kerajaan Sribuza yang Islam”. Sayang, pada tahun 730 M Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha. 
[www.bringislam.web.id]

Sriwijaya Pernah Dipimpin Raja Muslim




Sriwijaya merupakan kerajaan Budha tertua dan terbesar di Nusantara. Namun tahukah Anda kalau sebagian warga Sriwijaya sudah banyak yang memeluk Islam sebagai agamanya. Sriwijaya juga menjalin korelasi yang begitu dekat dengan kekhalifahan Islam di zaman Bani Umayah (661-750 M) dan Bani Abasiyah (750-1256 M). Bahkan, Sriwijaya pernah dipimpin oleh seorang raja Muslim berjulukan Sri Indrawarman.  Di masa kekuasaannya, Sriwijaya dikenal sebagai “Kerajaan Sribuza yang Islam”.

Sebelum kedatangan imperialisme dan kolonialisme pasukan salib yang dipelopori Portugis dan Spanyol, korelasi antar pemeluk agama di Nusantara berjalan dengan amat baik. Orang-orang Islam yang terdiri dari para pedagang Arab dan beberapa penduduk pribumi Sumatera, bergaul dengan serasi dengan umat Hindu yang diwakili para pedagang India, dan juga dengan umat Budha yang diwakili kerajaan Sriwijaya. Bahkan Sriwijaya mempunyai korelasi resmi yang sangat erat dengan Daulah Islamiyah


Di masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah, Daulah Islamiyah mengirim duta-duta resminya ke aneka macam sentra peradaban di seberang lautan menyerupai Tiongkok dan Sriwijaya, yang dalam pengucapan pengecap mereka disebutnya sebagai Zabaj atau Sribuza. Di masa Sriwijaya sendiri tengah berada pada zaman keemasan. Wilayah kekuasaannya di utara merambah hingga Semenanjung Malaka, sedang di selatan hingga Jawa Barat.


Salah satu bukti eratnya persahabatan antara Sriwijaya dengan Daulah Islamiyah ialah dengan adanya dua pucuk surat yang dikirimkan Raja Sriwijaya kepada khalifah Bani Umayyah. Surat pertama dikirim kepada Muawiyyah, dan surat kedua dikirim kepada Umar bin Abdul Aziz.1 Surat pertama ditemukan dalam lemari arsip Bani Umayyah oleh Abdul Malik bin Umayr, yang disampaikan kepada Abu Ya’yub Ats-Tsaqofi, yang kem udian disampaikan lagi kepada Al-Haytsam bin Adi. Yang mendengar surat itu dari Al-Haytsam menceriterakan kembali pendahuluan surat tersebut:


“Dari Raja Al-Hind yang sangkar binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani putri raja-raja, dan yang mempunyai dua sungai besar yangmengairi pohon gaharu, kepada Muawiyah….”2 


Buzurg bin Shahriyar  al Ramhurmuzi pada tahun 1000 Masehi menulis sebuah kitab yang meng gambarkan betapa di zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya sudah bangun beberapa perkampungan Muslim. Perkampungan itu bangun di dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya. Hanya alasannya korelasi yang teramat baik dengan Dunia Islam, Sriwijaya membolehkan warganya yang memeluk agama Islam hidup dalam hening dan mempunyai perkampungannya sendiri di mana di dalamnya berlaku syariat Islam.3 Jadi semacam tempat istimewa.

Hubungan itu berlanjut hingga di  masa kekuasaan Bani Umayyah dengan khalifahnya Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). Ibnu Abdul al Rabbih secara lebih lengkap memuat korespondensi antara Raja  Sriwija ya kala itu,  Raja Sri Indr avar man (Sri Indrawarman) dengan Khalifah Umar bin  Abdul Aziz itu.4

Salah satu isi suratnya berbunyi, “Dari Raja di Raja (Malik al amlak) yang ialah keturunan seribu raja; yang beristeri juga cucu seribu raja; yang di dalam sangkar binatangnya terdapat seribu gajah; yang di daerahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu nan harum, bumbu-bumbu wewangian, pala, dan kapur barus yang semerbak wanginya hing ga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebetulnya mer upakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Dengan setulus hati, saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang sanggup mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya perihal hukum-hukumnya.” Ini ialah surat dari  Raja Sri Indrawarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang gres saja diangkat menggantikan Khalifah Sulaiman (715-717 M).

Khalif  Sulaiman merupakan khalifah yang memerintahkan Trariq Bin Ziyad membebaskan Spanyol. Pada masa kekuasaannya yang hanya selama dua tahun, Khalif Sulaiman telah memberangkatkan satu  armada persahabatan  berkekuatan  35 kapal perang dari Teluk Persia menuju pelabuhan Muara Sabak (Jambi) yang ketika itu merupakan pelabuhan besar di dalam lingkung an Kerajaan Sriwijaya. Armada tersebut transit di Gujarat dan juga di Pereulak (Aceh), sebelum kesannya memasuki sentra Kerajaan Zabag atau Sribuza (Sriwijaya).

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga mengutus salah seorang ulama terbaiknya untuk memperkenalkan Islam kepada Raja Sriwijaya, Sri Indrawarman, menyerupai yang diminta olehnya. Tatkala mengetahui se gala hal perihal Islam, Raja Sriwijaya ini tertarik. Hatinya tersentuh hidayah. Pada tahun 718, Sri Indrawarman kesannya mengucap dua kalimat syahadat. Sejak itu kerajaannya disebut orang sebagai “Kerajaan Sribuza yang Islam”. Tidak usang sesudah Sri Indrawarman ber syahadat,  pada tahun 726 M, Raja Jay Sima dari Kaling ga (Jepara, Jawa Teng ah), putera dari Ratu Sima juga memeluk agama Islam.5

Data-data perihal Islamnya Raja Sriwijaya memang begitu minim. Namun besar kemungkinan, Sri Indrawarman mengalami penolakan yang sangat andal dari lingkungan istana,  sehing ga raja-raja setelahnya kembali berasal dari kalangan  Budha. H. Zainal Abidin Ahmad hanya mencatat: “Perkembangan Islam yang begitu ramainya menerima pukulan yang  dahsyat sejak Kaisar-Kaisar Cina dari Dinasti Tang,  dan juga Raja-Raja Sriwijaya dari Dinasti Syailendra melaksanakan kezaliman dan pemaksaan keagamaan.”6

Memasuki era ke-14 M, Sriwijaya memasuki masa muram. Invasi Majapahit (1377) atas Sriwijaya menghancurkan kerajaan besar ini. Akibatnya banyak bandar mulai melepaskan diri dan menjadi otonom. Raja, adipati, atau penguasa setempat yang telah memeluk Islam lalu mendirikan kerajaan Islam kecil-kecil. Beberapa kerajaan Islam di Utara Sumatera pada kesannya bergabung menjadi Kerajaan Aceh Darussalam.(rz)

(Footnotes)
1 Prof. Uka Tjandrasasmita, “Hubungan Perdagangan Indonesia-Persia Pada Masa Lampau (Abad VII-XVII M) dan Dampaknya terhadaap Beberapa Unsur kebudayaan”, Jauhar Vol. 1, No. 1, Desember 2000 hal. 32
2 Azyumardi Azra, “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII”, Edisi Revisi, Jakarta 2004, hal. 27-28.
3 Buzurg bin Shahriyar al Ramhurzi, “Aja’ib al Hind”.
4 Ibnu Abdul Al Rabbih, “Al Iqd al Farid.”
5 H. Zainal Abidin Ahmad; Ilmu Politik Islam V, Sejarah Islam dan Umatnya Sampai Sekarang; Bulan Bintang; Cet.1; 1979; hal.136-137.
6 Ibid, hal. 137





Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui warta menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Ayo Jalan Terus! -  Suarakan Fakta dan Kebenaran ! 




Sumber https://ayojalanterus.blogspot.com
Share:

Syiar ....500 Tahun Islam Di Papua: Dari Raja Ampat Sampai Sultan Papua

  Ayo  Jalan Terus !  - Syiar Islam di Bumi Papua terjadi terutama terkonsentrasi di wilayah Papua Barat, mulai dari Raja Ampat sampai Fakfak


Haji Oea Saraka di Onin (Fakfak). Foto diambil antara tahun 1890-1900 


Oleh : Beggy Rizkiyansyah

GEMA Takbir mengumandangkan kebesaran Allah di nusantara ternyata meluas, bahkan sampai ke Papua. Lautan luas, diterabas, ombak diterjang oleh Muslim untuk menyiarkan Islam ke penjuru nusantara. Di bumi Papua, kita sanggup mencicipi kehadiran dakwah Islam, bahkan semenjak lima ratus tahun yang lalu.

Papua sendiri telah dikenal semenjak lama. Pada masa Kerajaan Sriwijaya, Papua disebut Janggi. Pelaut Portugis yang pernah singgah di Papua tahun 1526-1527 menyebutnya ‘Papua.’ Namun ada pula yang menyebutnya Isla de Oro (Island of Gold). Kemiripan fisik orang Papua dengan orang Afrika menciptakan pelaut Spanyol menyebutnya ‘Nieuw Guinea’, merujuk pada wilayah Guinea di Afrika Barat.[Rekonstruksi Sejarah Umat Islam di Tanah Papua. Disertasi tidak diterbitkan, Toni Victor M, Sekolah PascaSarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta 2008.]

Papua, mungkin juga berasal dari bahasa Melayu, pua-pua, yang berarti keriting. Istilah ini digunakan oleh William Mardsen tahun 1812, dan terdapat dalam salah satu kamus bahasa Melayu -Belanda karya Von der Wall tahun 1880, dengan kata ‘Papoewah’ yang berarti orang yang berambut keriting.[On the Origin of the Name Papua, J Sollewijn Gelpke. 1993BKI Vol 149 No: 2.Leiden]

Istilah Papua sendiri tampaknya berasal dari bahasa Tidore, Papo Ua, yang berarti tidak bergabung atau tidak bersatu. Maksudnya yakni wilayah luas dan tanah besar itu (Papua) tidak termasuk ke dalam induk kesultanan Tidore.

Berbagai sebutan untuk Papua menyiratkan pada kita, akan keragaman bangsa yang berinteraksi dengan orang-orang Papua. Salah satu bangsa yang diketahui berafiliasi dagang dengan orang-orang Papua yakni pedagang Cina. Pertukaran barang ibarat porselin dan tembikar terjadi diantara mereka. Bahkan di kalangan masyarakat Seruni, terdapat keturunan Cina. Hubungan lain tercipta antara Kerajaan Majapahit dengan orang-orang Papua. Terutama dengan penduduk Papua di Onin (Wwanin), Fakfak. Hubungan ini diketahui dari Syair Negarakertagama karya Empu Prapanca (1365M), dalam sebuah bait syair disebutkan kata Wwanin (Onin, Fakfak) dan Sran (Kowiai atau Kaimana).

Tak hanya dengan bangsa di Asia, para penjelajah Eropa juga telah mengunjungi Papua semenjak masa ke 16. Tahun 1526, misalnya, Gubernur Portugal pertama di Maluku berjulukan Jorge de Menesez mengunjungi Pulau Waigeo (Raja Ampat). Tahun 1545, Kapten Ynigo Ortiz de Retez dari Spanyol mencapai sekitar Sarmi, di muara Sungai Mamberamo. Ia kemudian memberi nama pulau itu (Papua) Nueva Guinea.

Hubungan orang Papua, yaitu Raja Waigeo dengan orang Portugis sanggup ditelusuri dari catatan perjalanan Miguel Roxo de Brito, yang menjelajah ke Raja Ampat tahun 1581. Dari catatan De Brito, tampaknya sanggup kita simpulkan Raja Waigeo telah memeluk agama Islam.[ The Report of Miguel Roxo de Brito in His Voyage in 1581-1582 To the Raja Ampat, the MacClur Gulf and Seram, JHF Sollewijn Gelpke, BKI Vol 150 No: 1 Leiden, 1994]

Kontak-kontak orang-orang Papua dengan banyak sekali pihak tersebut biasanya sebatas perdagangan. Namun kontak orang-orang Papua dengan Muslimlah yang kemudian menunjukkan dampak yang berbeda. Kontak orang-orang Papua dengan Muslim tak hanya terbatas pada soal perdagangan, namun juga perubahan hidup mereka dengan memeluk Islam.

Syiar Islam di Bumi Papua terjadi terutama terkonsentrasi di wilayah Papua Barat, mulai dari Raja Ampat sampai Fakfak. Ada beberapa versi mengenai masuknya Islam di Papua. Kebanyakan sumber sejarah masuknya Islam di Papua berdasarkan sumber-sumber ekspresi masyarakat setempat. Versi Papua, misalnya, berdasarkan legenda di masyarakat setempat, khususnya di Fakfak. Versi ini menyebut Islam bukanlah dibawa dari luar ibarat Tidore atau pedaganh Muslim, tetapi Papua sudah Islam semenjak Pulau Papua diciptakan oleh Allah. Versi ini tentu saja tidak sanggup diterima, namun secara tersirat versi ini mengambarkan Islam di Papua telah menjadi kepercayaan yang menyatu dengan masyarakat setempat.

Versi lain yakni versi Aceh. Versi ini berdasarkan sejarah ekspresi dari tempat Kokas (Fakfak) yang menyebutkan Syekh Abdurrauf dari Kesultanan Samudera Pasai mengirim Tuan Syekh Iskandar Syah untuk berdakwah di Nuu War (Papua) tahun 1224. Syekh Iskandar kala itu membawa beberapa kitab yakni mushaf Al Qur’an, kitab hadits, kitab tauhid dan kitab kumpulan doa. Ada pula manuskrip yang ditulis di atas pelepah kayu, ibarat daun lontara. Beberapa manuskrip tersebut diyakini selamat sampai dikala ini. Namun versi ini perlu dipertimbangkan kembali, mengingat btu nisan Sultan pertama Pasai, Malik As Shalih di Pasai berangka tahun 1297M. Artinya, masa ke 13 yakni masa-masa awal Kesultanan Samudera Pasai. Dakwah Kesultanan Samudera Pasai dikala itu (abad ke 13) tampaknya masih terkonsentrasi di Sumatera, mengingat dikala itu, wilayah-wilayah lain di Sumatera pun belum sepenuhnya memeluk Islam. Manuskrip warisan yang disimpan sampai kini, akan lebih baik bila diteliti secara filologi.

Menurut tradisi ekspresi lain di Fakfak, Islam disebarkan oleh mubaligh berjulukan Abdul Ghafar asal Aceh pada tahun 1360-1374 di Rumbati. Makam dan Masjid Rumbati menjadi peninggalannya. Namun warta lain menyebut Abdul Ghafar tiba ke Rumbati tahun 1502 M. Kemungkinan ini perlu ditinjau kembali, terutama dalam hal waktu masuknya Islam. Kemungkinan Abdul Ghafar tiba pada masa ke 16, bersamaan dengan masa keemasan Kesultanan Ternate dan Tidore sebagai bandar jalur sutera dan meluaskan kekuasaannya dari Sulawesi sampai Papua.

Versi lain masuknya Islam di Papua yakni versi Arab. Versi ini menyebutkan Islam di Papua disebarkan oleh seorang sufi berjulukan Syarif Muaz al Qathan (Syekh Jubah Biru) dari Yaman , yang terjadi pada masa ke 16. Hal ini sesuai dengan adanya Masjid Tunasgain yang dibangun sekitar tahun 1587. Informasi lain menyebut Syekh Jubah Biru tiba pada tahun 1420M.

Pendapat yang tampaknya lebih berpengaruh mengenai masuknya Islam di Papua yakni datangnya Islam di Papua melalui Kesultanan Bacan (Maluku). Di Maluku terdapat empat Kesultanan, yaitu, Bacan, Jailolo, Ternate dan Tidore (Moloku Kie Raha atau Mamlakatul Mulukiyah). J.T. Collins, menyebutkan, berdasarkan kajian linguistik, Kesultanan Bacan yakni Kesultanan tertua di Maluku. Syiar Islam oleh Kesultanan Bacan disebarkan di wilayah Raja Ampat.

Terbentuknya Kolano Fat (Raja Ampat atau Raja Empat, dalam bahasa Melayu) di kepulauan Raja Ampat oleh Kesultanan Bacan, sanggup dilihat dari nama-nama gelar di kepulauan tersebut; (1) Kaicil Patra War, bergelar Komalo Gurabesi (Kapita Gurabesi) di Pulau Waigeo, (2) Kaicil Patra War bergelar Kapas Lolo di Pulau Salawati. (3) Kaicil Patra Mustari bergelar Komalo Nagi di Misool, (4) Kaicil Boki Lima Tera bergelar Komalo Boki Sailia di Pulau Seram.Isitilah Kaicil yakni gelar anak pria Sultan Maluku. Menariknya, nama Pulau Salawati berdasarkan tutur ekspresi masyarakat setempat,, diambil dari kata Shalawat.

Ada beberapa nama tempat yang merupakan derma Sultan Bacan. Seperti Pulau Saunek Mounde (buang sauh di depan), Teminanbuan (tebing dan air terbuang), War Samdin (air sembahyang). War Zum-zum (penguasa atas sumur) dan lainnya. Nama-nama tersebut merupakan bukti-bukti peninggalan nama-nama tempat dan keturunan Raja Bacan yang menjadi Raja-raja Islam di Kepulauan Raja Ampat. Kemungkinan Kesultanan Bacan mengembangkan Islam di Papua sekitar pertengahan masa ke 15 dan kemudian masa ke 16, terbentuklah kerajaan-kerajaan kecil di Kepulauan Raja Ampat, sesudah para pemimpin-pemimpin Papua di Kepulauan tersebut mengunjungi Kesultanan Bacan tahun 1596.

Pendapat ini didukung pula oleh catatan sejarah Kesultanan Tidore ‘Museum Memorial Kesultanan Tidore Sinyine Malige’, yang menyebutkan Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X) melaksanakan ekspedisi ke Papua dengan satu armada kora-kora. Ekspedisi ini menyusuri Pulau Waieo, Batanta, Salawati, Misool di Kepulauan Raja Ampat. Di wilayah Misool, Sultan Ibnu Mansur yang sering disebut Sultan Papua I, mengangkat Kaicil Patra War, putra Sultan Bacan dengan gelar Komalo Gurabesi. Kacili Patra War kemudian dinikahkan dengan putri Sultan Ibnu Mansur, yaitu Boki Thayyibah. Dari penikahan inilah Kesultanan Tidore memperluas pengaruhnya sampai ke Raja Ampat bahkan sampai Biak.* (BERSAMBUNG)
Penulis Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar







Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui warta menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Ayo Jalan Terus! -  Suarakan Fakta dan Kebenaran ! 




Sumber https://ayojalanterus.blogspot.com
Share:

Jumat, 08 Februari 2019

Inilah Negeri Islam Yang Hilang....Pasti Belum Pada Tau

  Ayo  Jalan Terus !  -  (Sumber: Russia Today)Dahulu, Crimea adalah salah satu wilayah Turki Utsmani, tepatnya berada di bab utara. Islam masuk ke Crimea pada paruh pertama masa ke-10 Masehi.




Kebanyakan penduduknya kala itu keturunan Turki yang kemudian lebih kesohor dengan Sebutan bangsa Tatar. Nama Crimea sendiri berasal dari bahasa Tatar Al-Qirm yang bermakna 'benteng'.

Kini, wilayah yang disebut Crimea tersebut mencakup Semenanjung Crimea, ditambah sejumlah wilayah Rusia yang mengelilingi Laut Azoz, dan beberapa wilayah di sebelah utara semenanjung yang sekarang termasuk wilayah Ukraina.


Crimea menyimpan sejarah seputar kejayaan peradaban Islam masa lalu. Namun seiring waktu, negeri Islam yang pernah bersinar itu perlahan redup bersamaan dengan melemahnya Turki Utsmani.
Pada tahun 1774, Turki Utsmani melepas wilayah Crimea menurut perjanjian Kojak Qanarjh. Sejak itu kendali atas wilayah Semenanjung Crimea berada di bawah kekuasaan Rusia.





Di bawah Rusia, kemerdekaan Crimea terenggut. Pada tahun 1783, kota-kota besar di Crimea dihancurkan dan dibakar. Banyak pula situs-situs peninggalan sejarah Islam yang dilenyapkan.

Keberadaan penduduk Crimea yang secara umum dikuasai Muslim pun kian berkurang terutama ketika berada di bawah kekuasaan Uni Soviet. Pada tahun 1944, Muslim Tatar diusir secara paksa dari wilayahnya. Masjid-masjid pun dihancurkan. Dari sekitar 1.800 masjid yang ada di sana, tersisa hanya sekitar 20-30 masjid.

Tahun 1964 Uni Soviet tetapkan untuk menggabungkan Crimea ke Ukraina. Sejak ketika itulah, nasib kaum Muslim Tatar perlahan berubah. Terlebih ketika Ukraina merdeka pada tahun 1991, Crimea pun resmi menjadi salah satu wilayahnya.






Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui gosip menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Ayo Jalan Terus! -  Suarakan Fakta dan Kebenaran ! 




Sumber https://ayojalanterus.blogspot.com
Share:

Kamis, 07 Februari 2019

Benarkah Pulau Sumatera Telah Dikenal Oleh Rasulullah Saw Semasa Hidup ?



Syed Muhammad al Naquib al Attas

Benarkah pulau Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah SAW semasa hidup, serta telah dilalui dan disinggahi para pedagang dan pelaut Arab di masa itu? Pernyataan ini diungkap Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction” yang di seminarkan November 2011 lalu.

Syed Muhammad al Naquib al Attas lahir di Bogor, 5 September 1931 yaitu seorang cendekiawan dan filsuf muslim ketika ini dari Malaysia. Ia menguasai teologi, filsafat, metafisika, sejarah, dan literatur.

Muhammad al Naquib al Attas
Ia juga menulis banyak sekali buku di bidang anutan dan peradaban Islam, khususnya perihal sufisme, kosmologi, filsafat, dan literatur Malaysia.

Sumber Wikipedia menyebutkan, tahun 1962 Al-Attas menuntaskan studi pasca sarjana di Institute of Islamic Studies di McGill University, Montreal, Kanada, dengan thesis Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh.

Al-Attas kemudian melanjutkan studi ke School of Oriental and African Studies, University of London di bawah bimbingan Professor A. J. Arberry dari Cambridge dan Dr. Martin Lings. Thesis doktornya (1962) yaitu studi perihal dunia gaib Hamzah Fansuri.

Pada 1987, Al-Attas mendirikan sebuah institusi pendidikan tinggi bernama International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur. Melalui institusi ini Al-Attas bersama sejumlah kolega dan mahasiswanya melaksanakan kajian dan penelitian mengenai Pemikiran dan Peradaban Islam, ia terkenal kritis terhadap Peradaban Barat.

Kesimpulan Al-Attas ini berdasarkan inductive methode of reasoning. Metode ini, ungkap al-Attas, sanggup dipakai para pengkaji sejarah ketika sumber-sumber sejarah yang tersedia dalam jumlah yang sedikit atau sulit ditemukan, lebih khusus lagi sumber-sumber sejarah Islam dan penyebaran Islam di Nusantara memang kurang.

Ada dua fakta yang al-Attas gunakan untuk hingga pada kesimpulan di atas.

Pertama, bukti sejarah Hikayat Raja-Raja Pasai yang di dalamnya terdapat sebuah hadits yang menyebutkan Rasulullah saw menyuruh para sahabat untuk berdakwah di suatu tempat berjulukan Samudra, yang akan terjadi tidak usang lagi di kemudian hari. Hikayat Raja-raja Pasai antara lain menyebutkan sebagai berikut:

…Pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda“Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin Samudera namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau (sediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kau bawa orang dalam negeri (itu) masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala Wali Allah jadi dalam negeri itu”

Dasarnya tentu sangat berpengaruh baik secara teologis maupun secara antropologis. Menurutnya, Hamzah Fansuri, Nurruddin Ar-Raniry, Syamsuddin As-Sumatrani, Syech Abdurrauf As-singkili yang terkenal dengan nama Syeikh di Kuala atau Syiah Kuala yaitu sekian diantara ulama besar Aceh yang pernah ada di zaman keemasan kesultanan Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam.

Bahkan, sekian diantara Wali Songo mempunyai garis kekerabatan pendidikan atau lulusan (alumni) yang belajar di Samudera Pasai sebagai sentra peradaban Islam Asia tenggara kala itu. Bahkan beberapa diantaranya ada yang mempunyai kekerabatan keturunan dengan Aceh penyebar Islam di tanah Jawa.

Sumber wikipedia menyebutkan, bahwa asal-usul penamaan pulau "Sumatra" sendiri berasal dari keberadaaan sebuah kerajaan benama Samudera Pasai (terletak di pantai pesisir timur Aceh). Diawali dengan kunjungan Ibnu Batutah, petualang asal Maroko ke negeri tersebut pada tahun 1345, beliau melafalkan kata Samudera menjadi Samatrah, dan kemudian menjadi Sumatra atau Sumatera, selanjutnya nama ini tercantum dalam peta-peta kala ke-16 buatan Portugis, untuk dirujuk pada pulau ini, sehingga kemudian dikenal meluas hingga sekarang. (Nicholaas Johannes Krom, De Naam Sumatra, BKI, 100, 1941.)

Kedua, berupa terma “kāfūr” yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Kata ini berasal dari kata dasar “kafara” yang berarti menutupi. Kata “kāfūr” juga merupakan nama yang dipakai bangsa Arab untuk menyebut sebuah produk alam yang dalam Bahasa Inggris disebut camphor, atau dalam Bahasa Melayu disebut dengan kapur barus.

Masyarakat Arab menyebutnya dengan nama tersebut sebab materi produk tersebut tertutup dan tersembunyi di dalam batang pohon kapur barus/pohon karas (cinnamomum camphora) dan juga sebab “menutupi” bau mayat sebelum dikubur.

Produk kapur barus yang terbaik yaitu dari Fansur (Barus) sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang terletak di pantai barat Sumatra.

Dengan demikian tidak diragukan wilayah Nusantara lebih khusus lagi Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah dari para pedagang dan pelaut yang kembali dengan membawa produk-produk dari wilayah tersebut (pasai) dan dari laporan perihal apa yang telah mereka lihat dan dengar perihal tempat-tempat yang telah mereka singgahi.

Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas

Menurut berita-berita luar yang juga diceritakan dalam Hikayat Raja-raja Pasai (Pase) kerajaan ini letaknya di daerah Selat Melaka pada jalur kekerabatan bahari yang ramai antara dunia Arab, India dan Cina. Disebutkan pula bahwa kerajaan ini pada kala ke XIII sudah terkenal sebagai sentra perdagangan di daerah itu.

Kembali berdasarkan Al-Attas, ia menyebutkan, ada empat faktor penyebab minimnya sumber dan kajian  sejarah Islam dan sejarah penyebaran Islam di Nusantara.

Pertama, sumber dan karya ilmiah sejarah Islam yang ditulis dalam karakter Jawi/Pego (Arab latin) oleh masyarakat Nusantara tidak begitu terkenal di kalangan ilmuwan Barat sebab tidak banyak dari mereka yang pintar membaca goresan pena Jawi.

Kedua, banyak sumber sejarah yang hilang atau tidak diketahui keberadaannya pada zaman penjajahan.

Ketiga, biasanya sumber-sumber sejarah yang ditulis masyarakat Nusantara dianggap oleh orientalis sebagai artifak sastra, sebagai karya dongeng atau legenda, yang hanya sanggup dipelajari dari sudut filologi atau linguistik, dan tidak sanggup diterima sebagai sumber sejarah yang tepat dan benar.

Keempat, sebab minimnya sumber dan kajian sejarah Islam Nusantara menciptakan para ilmuwan Barat  hanya memakai sumber, kajian dan goresan pena dari luar Nusantara termasuk dari Barat. Mereka tidak memperhatikan atau mungkin tidak tahu adanya bahan-bahan dan informasi yang terdapat dalam banyak sekali sumber sejarah Islam termasuk sumber-sumber sejarah dari wilayah Nusantara.

Prof. Dr. Abdul Rahman Tang, Akademis dan dosen pasca sarjana di Departemen Sejarah dan Peradaban, Kulliyyah of Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences di International Islamic University Malaysia, selaku pembanding menyatakan kajian sejarah Islam Nusantara yang dilakukan al-Attas dalam buku tersebut sebagian besar bersifat spekulatif.

Salah satu fakta spekulatif tersebut yaitu hadits yang terdapat dalam Hikayat Raja Raja Pasai.

Menurutnya, fakta-fakta tersebut sanggup valid kalau telah menjalani proses “verification of fact”. Namun Al-Attas tidak melaksanakan proses ini terhadap hadits yang disebutkan di dalam hikayat raja-raja pasai tersebut.

Historical Fact and Fiction
Muslim China warga Malaysia ini mempertanyakan perihal hadits ini dan mengkhwatirkan implikasinya terhadap anutan masyarakat Nusantara. Menurutnya, al-Attas melaksanakan inductive methode of reasoning secara tidak konstruktif. Sedang Dr. Syamsuddin Arif, dosen IIUM asal Jakarta, selaku pembicara kedua dalam program bedah buku tersebut mengungkapkan kesimpulan al-Attas di atas logis dan sesuai dengan fakta.

Hal ini berdasarkan perjalanan pelaut dan pedagang Arab pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  yang pergi ke China. Untuk mencapai negeri China melalui bahari tak ada rute lain kecuali melalui dan singgah wilayah Nusantara.

Lebih lanjut Arif mengemukakan banyak sekali teori dan pendapat perihal kapan, dari mana, oleh siapa, dan untuk apa penyebaran Islam di Nusantara beserta bukti-bukti dan fakta-fakta yang dipakai untuk mendukung pendapat-pendapat tersebut. Arif juga menjelaskan ilmuwan siapa saja yang memegang dan yang menentang pendapat-pendapat tersebut.

Di selesai makalahnya, Arif mempertanyakan pendapat J.C. Van Leur yang pertama kali menyatakan bahwa penyebaran Islam di Nusantara dimotivasi oleh kepentingan ekonomi dan politik para pelakunya.

Van Leur dalam bukunya “Indonesian Trade and Society” berpendapat, sejalan dengan melemahnya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Sumatera dan khususnya di Jawa, para pedagang Muslim beserta muballigh lebih berkesempatan mendapat keuntungan dagang dan politik.

Dia juga menyimpulan adanya kekerabatan saling menguntungkan antara para pedagang Muslim dan para penguasa lokal.

Pihak yang satu menunjukkan tunjangan dan dukungan materiil, dan pihak kedua menunjukkan kebebasan dan proteksi kepada pihak pertama.

Menurutnya, dengan adanya konflik antara keluarga darah biru dengan penguasa Majapahit serta ambisi sebagian dari mereka untuk berkuasa, maka islamisasi merupakan alat politik yang ampuh untuk merebut dampak hingga menghimpun kekuataan.

Menurut catatan M. Yunus Jamil, bahwa pejabat-pejabat Kerajaan Islam Samudera Pasai terdiri dari orang-orang alim dan bijaksana. Adapun nama-nama dan jabatan-jabatan mereka yaitu sebagai berikut:

1. Seri Kaya Saiyid Ghiyasyuddin, sebagai Perdana Menteri.
2. Saiyid Ali bin Ali Al Makaarani, sebagai Syaikhul Islam.
3. Bawa Kayu Ali Hisamuddin Al Malabari, sebagai Menteri Luar Negeri.

Dari catatan-catatan, nama-nama dan lembaga-lembaga menyerupai tersebut di atas, Prof. A. Hasjmy berkesimpulan bahwa, sistem pemerintahan dalam Kerajaan Islam Samudera Pasai sudah teratur baik, dan berpola sama dengan sistem pemerintahan Daulah Abbasiyah di bawah Sultan Jalaluddin Daulah (416-435 H).

Nama Samudera dan Pasai sudah terkenal disebut-sebut baik oleh sumber-sumber Cina, Arab dan Barat maupun oleh sumber-sumber dalam negeri menyerupai Negara Kertagama (karya Mpu Prapanca, 1365) pada kala ke 13 dan ke-14 Masehi. Dan perihal asal seruan nama kerajaan ini ada banyak sekali pendapat.

Menurut J.L. Moens, kata Pasai berasal dari istilah Parsi yang diucapkan berdasarkan logat setempat sebagai Pa’Se. Dengan catatan bahwa sudah semenjak kala ke VII M, saudagar-saudagar bangsa Arab dan Parsi sudah tiba berdagang dan berkediaman di daerah yang kemudian terkenal sebagai Kerajaan Islam Samudera Pasai .



Mohammad Said, salah seorang wartawan dan cendikiawan Indonesia pengarang buku ACEH SEPANJANG ABAD yang berkecimpung dengan penelitiannya perihal kerajaan ini dan kerajaan Aceh, dalam prasarannya yang berjudul “Mentjari Kepastian Tentang Daerah Mula dan Cara Masuknya Agama Islam ke Indonesia", berkesimpulan bahwa istilah PO SE yang terkenal dipakai pada pertengahan kala ke VIII M menyerupai terdapat dalam laporan-laporan Cina, yaitu identik atau menyerupai sekali dengan Pase atau Pasai.

Pendapat ini yaitu sesuai dengan apa yang telah dikemukakan oleh Prof. Gabriel Ferrand dalam karyanya (L’Empire, 1922, hal.52-162), dan pendapat Prof. Paul Wheatley dalam (The Golden Khersonese, 1961, hal.216), yang didasarkan pada keterangan para musafir Arab perihal Asia Tenggara. Kedua sarjana ini menyebutkan bahwa sudah semenjak kala ke-7 Masehi, pelabuhan-pelabuhan yang terkenal di Asia Tenggara pada masa itu, telah ramai dikunjungi oleh para pedagang dan musafir-musafir Arab. Bahkan pada setiap kota-kota dagang itu telah terdapat fondachi-fondachi atau permukiman-permukiman dari pedagang-pedagang yang beragama Islam. Wallahu'alam bissawab..

Referensi:

  • Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur, Malaysia
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Syed_Muhammad_Naquib_al-Attas
  • hidayatullah.com, Benarkah Nusantara telah dikenal di jaman Nabi

Sumber : https://ayoluruskan.blogspot.com/search?q=





Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Ayo Jalan Terus! -  Suarakan Fakta dan Kebenaran ! 




Sumber https://ayojalanterus.blogspot.com
Share:

Sample Text

Copyright © Ayo Luruskan | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Free Blogger Templates