Ayo Luruskan Niat, Tegakkan Kebenaran, Keadilan Kemakmuran di Indonesia untuk Kehidupan yang lebih baik dan sejahtera

Jumat, 08 Februari 2019

Cerita Rocky Gerung ‘Kitab Suci Yaitu Fiksi’ Gagal Jadi Fisikawan Alasannya Yaitu Telat Bangun

  Ayo  Jalan Terus !  - Rocky Gerung barangkali tak akan tersandung masalah ‘Kitab Suci yakni Fiksi’ jikalau beliau bangun pagi pada waktu itu. Sekitar tahun ‘70-an, Rocky membayangkan menjadi seorang fisikawan. Berkutat pada hal-hal rumit demi menjelaskan rahasia semesta.
“Dulu saya mau masuk ITB jurusan fisika, fisika murni, tapi telat bangun. Sampai Senayan sudah tutup (ujiannya),” kata Rocky dikala bercerita wacana masa lalunya ke kumparan di kantor kumparan, Sabtu (2/2) sore.
Gagal masuk ITB, Rocky mencoba peruntungan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Namun, meski diterima, Rocky malah banting setir ke Fakultas Teknik Universitas Trisakti. Belum ada gejala mendalami filsafat.



“Waktu itu teknik elektronya bahkan kita bilang labih baik daripada UI. Pengajarnya dari ITB segala macam. Laboratorium tersedia, jadi saya berguru di situ,” kenangnya.
Rocky menjelaskan, teknik elektronik di Trisakti bukan satu-satunya yang beliau geluti.  Dalam waktu yang sama, laki-laki kelahiran Manado itu juga berguru Ilmu Hubungan Internasional FIS UI (sekarang FISIP UI). Beberapa waktu kemudian, beliau pindah ke Fakultas Hukum, hingga balasannya terdampar dan lulus di Filsafat FS UI (sekarang FIB UI) pada 1986.
Petualangan Rocky di UI yang empat kali ganti jurusan terang bukan tanpa alasan. Menurut dia, seluruh disiplin ilmu yang pernah dicicipinya terlalu gampang untuk dipelajari. Hanya filsafat yang bisa menantangnya untuk berpikir lebih dalam.
“Karena (jurusan yang lain) tidak ada spekulasi yang membutuhkan abstraksi, membutuhkan penundaan argumen, membutuhkan deepening, pendalaman pertentangan selain philosophy. Saya lebih tertarik ke philosophy. Lalu saya  mengajar di situ,” terang Rocky.
Dari ragam posisi intelektual di filsafat, Rocky sangat berminat pada bacaan-bacaan kiri. Namun, ini bukan wacana bagaimana membangkitkan komunisme yang telah runtuh di Uni Soviet. Yang Rocky pelajari, bahkan menjadi skripsinya, yakni Teori Kritis Mazhab Frankfurt. Sebuah posisi intelektual yang kritis terhadap kekuasaan (establishment), bahkan curiga terhadap komunis itu sendiri.
Dalam mazhab itu, Rocky menaruh hormat pada seorang filsuf Jerman berjulukan Jürgen Habermas. Seorang filsuf yang berhasil memecahkan kebuntuan dari sederet filsuf Mazhab Frankfurt generasi awal. Mulai dari Max Horkheimer, Theodor Adorno, hingga Herbert Marcuse.
Singkatnya, kebuntuan dari Mazhab Fraknfurt terjadi karena keyakinan bahwa irasionalitas,  yang kandung dibungkus dengan selubung ideologis, telah melenyapkan kemampuan insan dalam berpikir jernih. Sementara melalui Habermas, kebuntuan itu dipecahkan dengan cara kembali pada hal yang sangat mendasar, yakni praxis komunikasi.
Habermas, begitu pula Rocky, percaya bahwa perubahan sosial sanggup diciptakan melalui deliberasi. Dalam arti duduk masalah umat insan kian sanggup diselesaikan melalui kehangatan berwarga negara. Yakni melalui laga argumentasi, bukan menggulung lengan baju dan mencanangkan revolusi.
“Cara berpikir Habermas bahu-membahu juga saya manfaatkan hingga kini dalam analisis sosial politik,” terang Rocky.
Saat ditanya apakah ini berarti posisi intelektual Rocky berada di kiri, ia menjawab diplomatis. Menurut Rocky, ada ketidakcukupan pemahaman orang terhadap definisi kiri dan kanan. Hal itu karena ada perbedaan semangat dalam memahami keduanya.
Di Amerika Serikat misalnya, kiri berarti liberalisme. Sedangkan kanan berarti konservatisme. Sementara di Eropa, kiri yakni sosialisme. Sementara yang kanan justru liberalisme.
“Jadi kalau ditanya apa posisi ideologinya, saya bilang critical point of view aja terhadap semua soal itu. (Saya) cenderung liberal dalam pengertian kiri bukan Eropa. Karena untuk kritis orang mesti di kiri,” tegas dia.
Konsekuensinya, apa yang dibelanya selama ini yakni kebebasan beropini dan berbicara di muka umum. Untuk itu, Rocky menegaskan, beliau bukanlah pro Prabowo atau bahkan pro terhadap gerakan 212. Dengan tegas, beliau menampik sejumlah tuduhan yang menyebutnya telah ‘hijrah’ mengamini kegiatan Islam kanan.
“Bahwa saya jadi kanan ya enggak. Saya membela 212 untuk mengucapkan pendapat,” katanya.
Rocky menambahkan, terkait reuni 212, yang beliau bela yakni hak memperoleh informasi atas program itu. Alasannya, reuni 212 di Monas merupakan insiden besar. Namun, beliau mengaku hannya meihatnya di berita-berita internasional.
“Kenapa negara menutup informasi wacana 212? Makara saya membela hak saya untuk memperoleh info mengenai 212. Kan itu masalahnya,” imbuh dia.
Kekeliruan orang dalam memahami perilaku politiknya itu yang kadang-kadang menciptakan Rocky geram. Di Twitter, beliau menyebut orang yang kerap berseberangan dengannya sebagai dungu. Istilah itu juga diucapnya untuk mengomentari pemerintah yang berdasarkan beliau seringkali kontraproduktif.
Sepanjang 31 Januari 2018 hingga 27 Januari 2019, kumparan mencatat adanya 2.644 tweets yang ia unggah. Dari cuitan sebanyak itu, kata ‘dungu’ ditulis sebanyak 262 kali. Kata itu yakni yang paling sering diucapkan Rocky.
“Kalau waras niscaya saya enggak akan pakai kata dungu. Bukan enggak ada (istilah lain). Namun, sulit untuk mengambarkan itu kalau setiap kali yang dipamerkan ke publik yakni inkonsistensi di dalam reasoning. Mungkin di rahasia beliau konsisten dalam reasoning-nya. Namun, ketika tampil sebagai pejabat publik gugup dan gagap,” uja Rocky.

[kum]


Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Ayo Jalan Terus! -  Suarakan Fakta dan Kebenaran ! 




Sumber https://ayojalanterus.blogspot.com
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Sample Text

Copyright © Ayo Luruskan | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Free Blogger Templates